Akad Salam / Jual Beli Salam merupakan perjanjian jual beli yang sesuai dengan Syariat (aturan) agama Islam, agar kita semua, baik penjual dan pembeli selamat dunia akherat. Secara harfiah, Akad itu adalah perjanjian sendangkan Salam itu adalah selamat, jadi kalau dimaknai secara kontekstual, yaitu suatu perjanjian jual beli agar kita selamat dunia akherat, aamiin.

Pastinya Anda pernah membeli suatu barang namun barang tersebut ternyata belum ada. Agar Anda bisa mendapatkan barang tersebut, maka Anda harus memesan dulu barang tersebut, lalu penjual akan membuatkan / menyiapkan barang yang Anda pesan dan akan diserahkan di kemudian hari.

Apa itu Akad Salam?

Jual Beli Salam adalah jual beli yang penerimaan barangnya ditangguhkan dengan pembayaran harga tunai di depan. Penjualan barang yang sesuai dengan karakteristik yang telah terdiskripsikan diawal dengan harga atau modal kerja dibayarkan didepan.
Dua ulama mazhab yaitu Syafi’I dan Hambali mendefinisikan Jual-Beli salam adalah sebagai sebuah akad tehadap barang yang teridentifikasi spesifikasinya yang akan dikirimkan pada waktu tertentu dengan penyerahan harga (uang) diawal, ketika dalam sesi kontrak (majelis akad).
Sedangkan mazhab Maliki mendefinisikan salam merupakan transaksi jual-beli yang dilakukan dengan memberikan uang sesuai harga, dimuka dan pengiriman / penyerahan barang pada waktu tertentu yang telah ditetapkan di masa yang akan datang.

Landasan Hukum Jual Beli Salam

Landasan hukumnya, tentu merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah, pada salah satu surat dalam qur’an yang merupakan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, yaitu Q.S. Al-Baqarah[2] : 282, yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya

Kemudian dirujuk pada Hadist Nabi SAW, yaitu “Dari Ibn ‘Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika datang ke Madinah, dan mendapati penduduknya menggunakan akad salaf (salam) pada buah-buahan untuk 1,2,3 tahun. Dia (SAW) berkata: “Barangsiapa yang melakukan transaksi salaf (pemesanan didepan), hendaknya menyatakan (spesifik) dalam volume jelas, takaran jelas dan waktu yang jelas

Ijma’ Muslimin: Ibn Mundzir berkata, “Seluruh ulama dari semua pendapatnya yang kami hafal (ketahui) menyatakan persetujuan dan membolehkan akad salam dan orang memerlukan akad ini dalam transaksinya. Hal ini mengingat bahwa pertumbuhan buah-buahan, sayuran dan bisnis regular memerlukan untuk dibiayai agar bisa menjalankan pertanian dan bisnisnya. Kontrak ini diperbolehkan dengan dasar pemenuhan kebutuhan manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *